Pages

Saturday, June 3, 2017

3 things that women need to fulfill

Judulnya menggunakan bahasa inggris, tetapi saya akan menulis dengan bahasa ibu saya.

Kemarin saya baru mendapatkan masukan sangat berharga dari salah satu dosen favorit saya di Universitas. Beliau sudah senior, tetapi hatinya sangat baik dalam membantu mahasiswanya. Memberikan masukan yang menurut ia penting, memberikan ide dan bahkan pencerahan hidup. Memang kebanyakan ada beberapa dosen senior yang sombong dan tidak bersedia untuk sembarang mengobrol sebentar saja dengan mahasiswa, tapi dosen ini selalu membuat saya terpukau karna kebaikan hatinya.

Beliau mengatakan bahwa menjadi wanita itu susah. Yang saya tau, beliau menganut feminisme, yang tentu saja saya juga masih belajar lebih dalam tentang hal tersebut secara feminisme merupakan sesuatu yang kompleks. Beliau mengatakan dengan terang-terangan, jangan ikuti kata orangtua yang menyuruh kita untuk menikah setelah lulus sarjana! 

Memang terkesan keras, ya? Tetapi saya 100% setuju dengan perkataan beliau. Beliau menasehati, menjadi wanita itu susah dikarenakan ada 3 hal yang harus dicapai seorang wanita untuk menjadi pribadi yang berguna.
1. Menjadi istri
2. Menjadi ibu (dari calon anak-anak kita nanti)
3. Menjadi scholar 

Poin pertama dan kedua, menjadi istri dan menjadi ibu. Pasti semua wanita bisa dengan mudah mencapai step tersebut. Teman-teman seumuran saya (btw saya jalan 23 tahun) banyak yang sudah menikah bahkan beranak 1. Yang lebih muda dari saya? Banyak. Entah trend apa yang membuat sekarang menikah muda menjadi populer dan diikuti banyak orang, padahal step itu adalah step yang sangat mudah dicapai seorang wanita.

Salah satu sanak keluarga besar saya pun juga sama. Entah saya harus prihatin atau gimana, keluarga ini menganut menikah muda. Memang, keluarga ini adalah keluarga syar'i. Tapi saya tidak mau mengeneralisasi, karena banyak juga wanita kerudung syar'i masih bermimpi untuk bersekolah. Sayangnya, keluarga besar saya tidak. Bahkan anak bungsunya, masih kuliah semester akhir, sudah mengumbar-umbar di sosial media untuk menikah setelah gelar sarjana didapatnya. Disana tertulis,
"Ayo kelarin skripsi, lalu menikah dan bikin anak yang banyak!"
Bikin anak yang banyak? Apakah itu mimpi terbesar kamu? Mimpi itu mudah sekali, dek. Apa sekarang keinginan melanjutkan sekolah lebih tinggi sudah punah dan tidak ada lagi?

Saya melihat, poin satu dan dua sangat digemari wanita jaman sekarang. Padahal secara logika sehat saja, jika seorang wanita sudah melahirkan, tubuhnya sudah akan terikat dengan anak. Tidak akan ada waktu lagi untuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Belum lagi kalau lambat laun semakin tua, semakin tua, semakin lemah otak dan fisik. Bagaimana mau sekolah? Apakah anak saja dibanyakin tapi ilmu tidak?

Saya jujur, sangat kasihan dengan orang sekitar saya yang bermimpi hanya sampai menikah. Perempuan itu pasti akan menikah. Mendapatkan laki-laki? Pasti. Tapi tolong, jauhan diri dari kehausan akan menikah. Ingat, itu nafsu atau apa? Malu dong jika cuma nafsu, apalagi pendidikan cuma sebatas sarjana. Kerudung sangat syar'i tapi nafsunya besar. Tidak sinkron.

Poin ketiga, yang menurut dosen saya sangat penting. Bermanfaat bagi orang lain. Bagaimana mau bermanfaat jika kita saja cuma sebatas sarjana? Dosen saya menekankan, mau sebanyak apa buku yang Anda baca, sebanyak apa tulisan yang Anda buat, sebanyak apa buku yang Anda terbitkan, jika dalam bagian 'penulis', Anda hanya sarjana, Anda tidak akan dipandang. Maka dari itu tulislah buku, bacalah artikel, atau terbitkan buku sembari Anda melanjutkan magister/doktoral.

Saya ingat saya pernah mencari buku di Gramedia. Saya lupa buku tentang apa, tetapi yang jelas untuk kebutuhan kuliah saya. Disitu banyak penulis bergelar sarjana, tetapi selalu saya skip. Saya pikir, yah dia aja sarjana. Pasti isi tulisannya sama dengan yang ada di otak saya. Saya butuh yang lebih ah, begitu kata saya. Saya tau itu disebut judge the book by its cover. tapi jangan munafik hayo, siapa yang kalo beli pisang milihnya yang masih kuning? Siapa yang kalo beli tomat menghindari yang benyek? Pasti semua orang sempat judge the book by its cover pada awalnya. Karena itu sifat natural manusia. Pasti kita lihat luarnya terlebih dahulu, setelah itu baru lihat dalamnya.

Benar kata dosen saya, penting untuk kita melanjutkan sekolah jika kita mau berkontribusi bagi negara kita, atau untuk diri kita sendiri, atau bermanfaat bagi orang lain. Ilmu yang didapat seorang sarjana sama saja seperti ilmu baru lulus SMA. Bisa menulis skripsi? Bisa. Menulis paper? Bisa. Tetapi kita belum mampu menciptakan sesuatu. Statement yang kita keluarkan sumbernya bukan dari otak kita, tetapi dari buku yang kita baca, atau dengar dari ceramah dosen kita di kelas.

Saya percaya bahwa wanita itu bisa segala hal, sama seperti laki-laki. Saya bahkan percaya, jika wanita serius, wanita akan lebih hebat dari laki-laki. Tetapi sayangnya wanita memiliki 3 peran penting yang membuatnya susah untuk mencapai kata 'lebih hebat dari laki-laki'. Jadi, kita sebagai penerus bangsa ini, akan lebih baik jika kita tidak melulu memikirkan soal menikah dan punya anak yang banyak. Karena eventually semua itu akan terjadi nanti. Kenapa harus buru-buru?