Thursday, January 5, 2017

Saya Menemukan Kawanan yang Merendahkan Fisik Saya

Suasana kerja baru. Asyik, Pergi naik kereta, pulang naik kereta selalu bersama dengan arus orang pergi & pulang kantor. Ramai. Kadang badan kerasa capek harus menerjang arus galak dan kasar seperti itu, tetapi namanya kerja, tidak ada libur kecuali tanggal merah/cuti bersama pemerintah.

Pekerjaan ini sangat nyaman. Tidak ada jam kantor, yang membuat saya bisa dengan santai berangkat dan pulang (asal masuk akal). Di kantor dapat makan prasmanan plus snack yang gak pernah habis. Air minum juga tinggal isi aja. Teh, kopi, oatmeal, mie rebus/goreng, pop mie, buah-buahan semua tinggal comot.

Tetapi ternyata diantara semua kenyamanan yang saya dapat, saya mendengar ada yang mengolok saya dibelakang. Bisa dibilang, saya termasuk orang yang sangat kepikiran dengan masalah sekecil apapun. Bisa membuat saya stress dan gak fokus.

Suatu hari saya mendengar dari teman saya yang mengadu kepada saya bahwa orang ini mengolok wajah saya karena jerawatan. Saya sebenarnya sangat tidak masalah jika ia bilang didepan saya atau sekedar bertanya tentang jerawat saya. Meskipun saya sudah genap 10 tahun hidup dengan jerawat, saya tetap mencoba ramah dengan orang yang ingin tahu penyebab muka saya seperti ini. [untuk informasi saja, jerawat saya sudah mendingan dibanding tahun-tahun saya masih kuliah. paling banyak ada 4-5 biji saja].

Banyak beauty blogger yang juga berjuang melawan jerawat sampai belasan tahun. Bukan karena hidupnya kotor atau jarang cuci muka, tetapi karena hormon. Itu beauty blogger lho, masa iya jarang cuci muka. Saya pun juga sama. Saya tidak pernah melewatkan sedetikpun waktu tanpa bersih-bersih saat malam hari sebelum tidur dan pagi hari sebelum berangkat kerja. Jika masih banyak yang tidak tahu cerita jerawat saya, mungkin saya bisa ceritakan sedikit disini.

Saya mulai berjerawat pada tahun 2007 (genap 10 tahun kan ditahun ini?) Jerawat yang saya alami adalah keturunan dari keluarga ayah saya. Ayah saya, sekarang sudah 50 tahun, masih mengalami jerawat. Mukanya penuh bekas jerawat dan ia pun juga masih konsultasi ke dokter muka bila dibutuhkan. Saya mempunyai 2 adik perempuan yang dua duanya juga berjerawat. Bahkan adik saya yang pertama sempat tidak mau keluar rumah karena tidak percaya diri dengan penampilannya.

Jika Anda berpikir, kenapa tidak diobati? Wah, kami sudah mencoba banyak dokter kulit. Dari mulai wijaya, erha, naava, semua yang memiliki rating dan review bagus. Kami bahkan mengkonsumsi Accutane [sejenis obat kulit dosis tinggi untuk mengurangi kadar minyak di kulit, jika mau mengkonsumsinya harus tanda tangan hitam diatas putih. obat ini bisa menyebabkan banyak efek samping ke kesehatan]. Sudah banyak kami lakukan, tetapi kami tidak juga membaik. Adik saya berubah menjadi vegetarian demi menjaga kulitnya [karena memakan daging sama dengan memakan hormon, yang membuat jerawat juga]. Tetapi adik saya masih jerawatan juga.

Kami memiliki rutinitas setiap malam untuk pakai lidah buaya, karena menurut orang-orang, itu sangat membantu. Skincare kami dari mulai yang ribet, sampai yang simpel semuanya ada. Jerawat yang kami alami juga beragam. Dari mulai jerawat batu, cystic acne atau jerawat dibawah kulit yang sakitnya luar biasa, jerawat kecil alias macam beruntusan juga pernah. Periode berjerawat juga tidak menentu, alias bisa selalu jerawatan meskipun tidak sedang PMS.

Banyak hal lain yang kalian mungkin mengira bahwa kami begitu teledor merawat kulit wajah. Padahal jika kalian datang kerumah kami, rumah kami penuh dengan skincare. Saya pribadi suka memakai makeup, tetapi saya tidak punya banyak. Hanya bedak, alis, maskara, liptint, selesai. Sisanya yang saya koleksi adalah skincare. Saya tidak pernah menghabiskan uang untuk beli foundation karena saya tidak mau memperparah kulit saya. Yang saya beli biasanya berbagai macam toner dan moisturizer untuk coba-coba.

Maka dari itu, saya sebenarnya tidak apa-apa jika Anda ingin tahu sejarah jerawat saya. Silahkan tanya dan saya akan sangat terbuka untuk menjelaskan. Lebih baik seperti itu daripada bilang 'aliva jelek ya soalnya jerawatan'. Like its not even related? Jerawat sama kecantikan sangat nggak ada hubungannya. Biasanya yang menghubung-hubungkan itu adalah orang yang kurang pengetahuan. Ya saya anggap dia sangat kurang pengetahuan atau basically just judge the book by the cover. 

Jika sebagian dari Anda masih memiliki pengetahuan kurang dan mengganggap orang jerawatan itu tidak cantik, mungkin sebaiknya banyak nonton video di youtube tentang bagaimana orang begitu berjuang untuk melawan jerawat. Saya rekomendasikan menonton youtuber luar negeri. Banyak dari America dan Britain yang membuat video dengan kualitas yang bagus menceritakan tentang sejarah jerawatnya, bagaimana ia kesakitan melawan jerawat, bahkan ada 1 youtuber bernama Brian Turner, iya dia laki-laki, yang juga punya jerawat parah bahkan ada beberapa video ia menangis karena sedih dengan jerawatnya. Seorang laki-laki yang seharusnya punya mental yang kuat, ternyata jatuh juga saat diolok teman karena jerawatnya.

Menurut saya, tidak pantas siapapun dari kalian menghina jerawat orang lain. Kalian tidak tahu bagaimana rasanya jerawatan itu sakit. Jerawat memang penyakit dan saya percaya itu. Anda tidak menertawakan orang yang terkena penyakit cacar, tapi kenapa harus menertawakan orang yang kena penyakit jerawat?